Kesemuan yang Nyata

Akhwaty fillah…

Dunia maya yang merupakan ruang semu dapat memberi makna dan pengaruh yang nyata. Fatamorgananya dapat dirasa oleh setiap individu yang meluncur didalamnya. Terkadang, ia berkamuflase menjadi kafein yang memberi rasa candu para penikmatnya. Dunia maya, sarang sosial media nan eksotis dengan berbagai aplikasinya. Melihat media sosial yang meruyak ke khalayak masyarakat di era digital ini, menjadi acuan utama dalam segala hal. Tak memandang tua, muda, pejabat, rakyat pribumi, kaum venus maupun mars tertarik pada dunia maya dengan segenap aplikasinya.

Gelar muslimah yang telah tersandang pada diri kita menuntut kita untuk merealisasiakan adab dalam bersosialisasi, sekalipun hanya melalui sosial media. Beradab, berakhlak, bertutur kata dengan bahasa nan indah namun penuh norma. Memilah-pilah lautan ilmu pengetahuan patut kita senantiasakan, meninggalkan riak-riak ombak syubhat dan syahwat yang senantiasa menderu. Menancap kebijakan dalam diri agar kebajikan yang didapat, luput dari bulu-bulu candu yang melenakan. Berasaskan niat menggapai ridha Ilahi, menegakkan kebenaran dengan segenap ilmu yang telah didapat. “Sampaikan walau hanya seayat.”. begitulah titah yang telah RasulNya sampaikan.

Namun sayang ketika nafsu merajai hati, candu yang melenakan akan mengalir begitu mudah tanpa hambatan. Membungkam ilmu yang telah didapat, hanya membebek hawa nafsu. Batasan-batasan yang semula melindunginya, luluh lantah oleh kuatnya dentuman nafsu yang berkuasa. Fitnah syubhat dan syahwat pun begitu antusias merasuk dalam hati penghamba nafsu. Kata-kata panas tertulis dikolom komentar menyulut api permusuhan antar pengguna media sosial. Tak sedikit mempublikasikan daily activity yang tak sepatutnya dipublikasikan. Menebar kasih dan pesona pada insan ajnabi yang haram. Memilukan memang, apa daya jika telah membabi buta. Hanya Allah, Penggerak hati manusia untuk kembali dijalanNya.

  Akhwaty fillah…

Segala konsekuensi akan kembali kepada masing-masing individu yang melakukannya. Perbuatannya tak terwujud secara nyata, namun dampaknya begitu nyata bagi pelakunya. Pisau bermata dua ini akan menusuk sasaran sesuai genggaman dan arah yang dituju. Pilihan ada ditangan setiap individu, dipandang positif atau negatif. Alangkah mulianya jika mengambil sisi positifnya. Membangun peradaban Islam nan kaffah namun tetap mengikuti perkembangan zaman yang semakin melejit. Tak ada kata lelah untuk senantiasa mengobarkan panji-panji kebenaran dengan mengharap ridha Allah Ta’ala. Wal’iyyadzu billah ‘an syarri an-nafsiWallaahua’lam.

Iklan

MENIKAH DI USIA DINI

Pernikahan Usia Dini

Menikah merupakan suatu hal yang sakral dalam agama Islam. Pembahasan yang menarik bagi kaula muda, terlebih pemuda pemudi yang telah memasuki masa balighnya. Adanya pernikahan usia dini zaman sekarang ini dianggap sebagai suatu hal yang negative.

Anggapan masyarakat umum demikian, lantaran tingkat pernikahan usia dini yang semakin meningkat dengan penyebab mayoritas adalah adanya hubungan haram. Perkara ini terjadi akibat banyaknya para pemuda-pemudi lebih memilih berpacaran terlebih dahulu daripada menyandang status menikah.

Pilihan para pemuda-pemudi untuk berpacaran tidak terlepas dari undang-undang yang telah dibentuk oleh pemerintah. Undang-undang positive tahun 1974 No.1 pasal 7 ayat 1 yang dibentuk oleh pemerintah telah menginisiasi adanya larangan menikah diusia dini, hanya diperbolehkan pada umur 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. Hal ini membuka peluang para pemuda untuk berzina.

Menikah dalam Islam

Menikah merupakan salah satu bentuk ibadah yang disyari’atkan Allah. Secara fitrah, manusia memiliki nafsu dan ketertarikan pada lawan jenis. Maha suci Allah yang telah menurunkan syari’at sesuai dengan kebutuhan makhlukNya. Menjadikan seseorang menyalurkan nafsunya secara halal kepada pasangannya. Perintah Allah sudah jelas dalam kitabNya:

Maka nikahilah perempuan lain yang kamu senangi, satu, dua atau tiga…”(QS. An-Nisa’:3)

Ibnu Katsir mengatakan:” Diperbolehkan seorang lelaki menikahi wanita baik dua, tiga maupun empat. Apabila ia tidak mampu dalam beberapa hal, seperti nafkah, keadilan dan hak-hak yang lainnya. Jika ia takut tidak bisa memenuhi hak-hak yang telah ditetapkan syari’at atau merasa tidak dapat adil, maka menikahi seorang wanita lebih baik baginya.

Dibalik syari’at menikah

Allah mensyari’atkan menikah tidak lain memiliki tujuan dan hikmah untuk para hambaNya. Pertama, dengan menikah sepasang kekasih dapat menyalurkan nafsunya secara halal. Sehingga kehormatan sepasang pemuda-pemudi terpelihara dan terjaga. Kedua, adanya suatu pernikahan, dapat menciptakan stabilitas seorang lelaki terhadap seorang wanita agar menghasilkan kasih sayang dan kredibilitas antara pasangan suami istri.

Ketiga, adanya regenerasi keturunan yang baik dengan adanya hubungan nasab, hal ini merupakan hasil dari sebuah pernikahan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun sangat bangga apabila melihat para ummatnya yang jumlahnya paling banyak diantara ummat-ummat nabi yang lain, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah dalam sabdanya adalah:

Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku berbangga dengan ummatku yang banyak pada hari kiamat.”(HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memperbanyak keturunan. Bukan berarti Rasulullah melarang menikahi wanita yang tidak subur, akan tetapi lebih mengutamakan perempuan yang subur. Sangat bertolak belakang dengan pemerintah yang menginisiasi kepada seluruh masyarakat untuk membatasi keturunan dengan mengikuti program “Keluarga Berencana”.

Menikah diusia dini

Allah mensyari’atkan menikah kepada para hambaNya tidak menentukan usia tertentu.  Sebagaimana dalam firmanNya:

 Dan nikahilah perempuan perawan diantara kalian dan orang-orang sabar…”(QS. An-Nuur:32)

Syari’at menikah dalam ayat ini berupa perintah, sehingga sebagian ulama’ mewajibkannya kepada siapa saja yang mampu. Kata perawan atau gadis menunjukkan bahwa perintah menikah ditujukan kepada para pemuda pemu

di. Gadis dalam kamus besar bahasa indonesia berarti anak perempuan yang telah baligh. Firman Allah ini selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut:

Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah mampu dalam memenuhi kebutuhan pernikahan maka menikahlah. Karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan lebih menjaga farj. Barangsiapa belum mampu menikah, hendaknya ia berpuasa karena ia merupakan obatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa diperintahkan untuk menikah bagi para pemuda. Perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits tersebut memang tidak mengkhususkan usia sebagaimana undang-undang positive Indonesia selama ini. Penentu seseorang diperbolehkan menikah adalah dengan kemampuan. Kemampuan dalam arti dapat memenuhi hak-hak suami istri dengan baik sesuai syari’at Islam.

Sebagaimana yang telah terukir dalam sejarah, Rasulullah menikahi Aisyah binti Abu Bakar ketika masih belia, sedangkan ayahnya shahabat Abu Bakar ridha padanya. Selain Aisyah, Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib yang merupakan anak kandung shahabat Ali menikah dengan shahabat Umar ketika masih sangat belia, dengan keridha’an shahabat Ali mengizinkannya. Ummul mukminin Aisyah dan Ummu Kultsum binti Ali dapat memenuhi hak-hak suami mereka setelah mereka baligh.

Menikah diusia dini diperbolehkan dalam syari’at Islam berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan kebolehannya dan tidak adanya larangan dalam hal ini. Sebagai penguat dalil, Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib menikah dalam usia belia. Wallahu A’lam Bishshawaab

Referensi: DR.Wahbah Az-Zuhaili, terj. Abdul Hayie al-Kattani, Fiqh Islam wa Adilatuhu 9/39-44

Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim 2/209 6/51

Muhammad Ali Ash-Shabuni, Rowai’ Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam 1/418

SEBUAH SUDUT NEGRI SYAM

“Sebuah bom barel jatuh pada hari selasa 4 april 2017 di Khan Seikhun, Idlib, Suriah memakan puluhan korban jiwa dan lima ratusan orang luka-luka. Korban yang kebanyakan anak-anak ini menderita sesak nafas, kejang-kejang dan rasa panas yang disebabkan oleh zat kimia sarin dan klorin.” (Kiblat.net/7/04/17)

rumah-sakit-di-suriah-dihujani-bom-barel-30-warga-sipil-tewas-7HB1vffMorSaya mengutip berita dari salah satu situs diinternet yang beberapa waktu lalu terjadi. Setelah penyerangan di Aleppo beberapa waktu lalu, Idlib pun diserang dengan begitu kejam. Sudah lima tahun lebih warga Suriah diserang oleh beberapa Negara adidaya yang ingin melenyapkan Islam dari muka bumi ini. Rusia, Amerika, Iran, Israel serta rezim Basyar Asad penguasa Suriah sendiri telah bersatu untuk menyerang saudara muslim kita yang ada di Suriah. Satu banding lima kubu sekaligus. Pada awalnya Amerika, Iran dan Rusia menyembunyikan keikut sertaan mereka dalam pembantaian yang dilakukan oleh Basyar Assad terhadap warga Suriah.

Bahkan, Iran membuat ormes-ormes dan organisasi-organisasi untuk membantu Suriah yang ironinya justru melawan warga Suriah. Secara logis, satu kubu dalam daerah yang kecil sangatlah mudah untuk dikalahkan oleh lima kubu. Persenjataan milik saudara kita di Suriah pun tak selengkap dan secanggih mereka. Kemungkinan kecil jika saudara kita di Suriah bisa bertahan hingga saat ini. Namun begitu menakjubkannya, sampai saat ini telah memasuki tahun keenam saudara kita di Suriah dihujani rudal dengan berbagai perlengkapannya secara tiba-tiba. Mereka tidak ada yang mengetahui sebelumnya.

Namun, dengan izin Allah mereka masih bisa bertahan dengan segala ketegaran dan semangat yang tak memadam. Sehingga menjadikan lima kubu tersebut kebingungan mencari cara bagaimana menghabisi saudara kita di Suriah yang jumlahnya tidak banyak. Sudah berapa ribu pasukan telah mereka terjunkan dalam medan peperangan, namun hasilnya tidak sesuai dengan target mereka. Semakin banyak serangan yang menimpa Suriah, semakin membara pula semangat kaum muslimin untuk melawan mereka. Dengan segenap keimanan yang menancap didada mereka, mereka rela menghabiskan waktu mereka dalam medan pertempuran.

Para musuh terus mencari-cari cara untuk menghancurkan Suriah, Islam khususnya. Hingga akhirnya mereka menemukan cara licik yang melanggar undang-undang peperangan yang telah ditetapkan oleh PBB(Perserikatan Bangsa-Bangsa). Para musuh menyerang menggunakan zat kimia yang sangat berbahaya sebagaimana berita yang tertera diatas. Perlakuan mereka benar-benar telah melanggar HAM(Hak Asasi Manusia). Sebab, zat kimia yang mereka gunakan sangat berbahaya bagi manusia. Dan tingkat bahayanya dua puluh enam kali lebih berbahaya dari sianida.

Menurut penelitian, zat kimia sarin dan klorin yang mereka gunakan memiliki dampak merusak tubuh manusia dengan merusak organ-organ dalam tubuh dan menyebabkan kanker. Tidak sedikit korban yang terkena zat kimia tersebut, diantara korbannya adalah anak-anak dan remaja. Dalam keadaan seperti ini, semangat kaum muslimin Suriah tidak akan pernah luntur dalam melawan musuh. Karena tujuan mereka adalah menyelamatkan agama Islam agar senantiasa berada diatas kemuliaan. Hal ini selaras dengan perkataan seorang lelaki paruh baya yang tegar menghadapi keluarganya yang menjadi korban pada peristiwa yang tertera diawal:

“Aku yakin akan bertemu mereka(keluargaku) di surga kelak.”

Pelanggaran yang dilakukan para musuh ini tidak menjadikan dunia bersuara untuk membela warga Suriah dan tidak ada sanksi bagi terdakwa. Mereka semua bungkam, seolah tidak ada masalah besar pada suatu Negara yang mayoritas adalah Islam. Sebagian situs berita mengabarkan peristiwa yang terjadi di Suriah, namun berita yang disebarkan tidak sesuai dengan realitanya. Sementara itu, Negara-negara lain dilarang keras mengirimkan bantuan kepada warga Suriah, baik secara finansial maupun fisik. Orang-orang yang hendak pergi ke Suriah untuk membantu dan mendukung kaum muslimin disana, dianggap sebagai teroris yang kemudian jika diketahui oleh pemerintah akan dipenjarakan di Negara masing-masing.

Berbeda dengan kejadian yang menimpa Negara-negara kafir, selalu menjadi topic hot dan selalu diserukan dalam media massa maupun cetak. Bahkan, situs-situs berita online pun menjadikannya topic utama selama beberapa waktu. Selalu menyangkutkan kejadian tersebut dengan Islam. Islam selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi teror bom, penghancuran sebagian gedung dan lain sebagainya. Realitanya, kejadian-kejadian tersebut hanya rekayasa dan sengaja untuk menyudutkan Islam. Dengan begitu, nilai citra Islam dimata masyarakat dunia umum menjadi buruk.

Dalam Islam tidak ada pemberontakan, akan tetapi demi membela agama orang Islam diperintahkan untuk memerangi kaum kafir yang menyerang kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam kitabNya:

وَقَاتِلُوْا فِي سَبِيْل الله الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُّوْا…

“Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, akan tetapi janganlah kalian melampaui batas….” (Al-Baqarah:190 )

Respon orang muslim Suriah terhadap serangan musuh selama ini tidak salah. Semua yang dilakukan hingga saat ini adalah bentuk pembelaan mereka tehadap agama dan mengamalkan firman Allah diatas. Mereka memerangi orang kafir ketika mereka mendapatkan serangan terlebih dahulu.

Sekuat apapun pasukan yang dikerahkan oleh para musuh, secanggih apapun alat yang mereka gunakan tidak menghalangi kehendak Allah. Perkiraan musuh, dengan menjatuhkan rudal yang mengandung gas beracun tersebut akan menyusutkan semangat kaum muslimin dalam memerangi mereka. Namun, realitanya semangat kaum muslimin di Suriah tidak menurun meski korban bergelimpang paska peristiwa tersebut. Bahkan semakin membara demi meninggikan kalimatullah. Sebagai saudara bagi mereka, hendaknya kita ikut andil dalam mendukung mereka. Minimal, kita kirimkan do’a-do’a untuk keselamatan dan keistiqomahan mereka dalam melaksanakan syari’at Allah. Wallaahua’lam bishshawaab.

MEREALISASIKAN ILMU

Merealisasikan Ilmu edit

“Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka diantara dia dan para nabi adalah sama, satu derajat disurga.” (Hasan Al-Basri)

Sungguh mulia orang yang berilmu, didunia maupun diakhirat. Hingga sebagaimana perkataan para ulama’ dan para sahabat. Allah pun telah banyak berfirman yang berkenaan dengan ilmu. Maka bersyukurlah orang-orang yang berilmu atas segala fadhilah yang telah didapat dan hendak didapat. Diantara firman Allah dalam kitab Nya adalah:

يَرْفَعِ اللّه الّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَأُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ

“Allah akan mengangkat derajar orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.”(Qs. Al-Mujadillah:11)

Tanpa ilmu, manusia akan hina laksana binatang. Memiliki akal yang tidak digunakan untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Tidak memiliki norma antara manusia dan tidak memikirkan tujuan ia hidup didunia. Hanya memenuhi hawa nafsu yang selalu berkecamuk dalam hati. Dengan adanya ilmu, manusia lebih memiliki adab terhadap siapapun. Manusia mengetahui tujuan hidup didunia ini serta dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Kepada siapa ia harus tunduk dan patuh, kepada siapa ia harus meminta pertolongan dan kepada siapa ia harus mengabdi. Maka, Allah berjanji hendak mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan memuliakannya.

Dalam sebuah kata mutiara yang merupakan tutur kata Rasulullah disebutkan:

أُطْلُبُوا الْعِلمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّهْدِ

“Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat.”

Nasehat ini hendaknya kita renungkan dan kita amalkan. Begitu banyak jalan menuju ilmu telah tersedia dizaman kita ini. Buku-buku telah termodifikasi, kita tinggal menikmati saja. Tidak sebagaimana para ulama’ salaf terdahulu. Mereka rela semasa hidupnya mereka gunakan untuk berkelana mencari ilmu di berbagai negara. Menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu, menghafal dan menulis. Sebagaimana yang dilakukan Imam Ahmad bin Hanbal dalam mencari ilmu. Beliau rela berjalan sambil menuntun hewan tunggangannya yang membawa buku-buku tebal yang berisi ilmu-ilmu yang telah beliau dapatkan dari para guru beliau.

Imam Bukhori yang rela pergi dari kampung halamannya menuju negri sebrang demi mendapatkan satu hadits dari seorang ahlu hadits. Dan sekarang, ilmu sangat mudah untuk dicari. Tidak sebagaimana para ulama’ terdahulu. Banyak buku yang ditulis oleh para ulama yang dapat kita pelajari ilmunya. Terutama ilmu-ilmu tentang dasar-dasar agama, hukum-hukum, dan batasan-batasan yang di tentukan oleh Allah, larangan-larangan Allah yang secara terperinci sudah termodifikasi semua dalam buku-buku yang ditulis oleh para ulama’. Ilmu-ilmu yang mereka dapat, selalu terealisasikan serta menuliskannya dalam bentuk buku-buku tebal.

Para ulama’ terdahulu sudah memikirkan generasi-generasi setelahnya. Oleh karenanya, mereka menuliskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan agar dapat dipelajari oleh generasi setelahnya. Tentunya, ilmu yang mereka dapatkan telah mereka realisasikan. Salah satu figure yang luar biasa kehebatannya dalam merealisasikan ilmu adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Tidak ada satu hadits yang beliau dapatkan kecuali beliau mengamalkannya. Hingga suatu amalan yang beliau tidak menyukainya beliau tetap mengerjakannya walaupun hanya sekali. Diantaranya, beliau tidak menyukai hijamah akan tetapi beliau mendapatkan hadits tentang itu, maka beliau tetap mengamalkannya.

Dalam pepatah lain disebutkan:

العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

“Ilmu tanpa amal, bagaikan ilmu tanpa buah.”

Dengan merealisasikan ilmu, menjadikan ilmu-ilmu yang kita miliki akan lebih melekat pada diri kita. Bahkan, ilmu-ilmu yang telah kita realisasikan akan bermanfa’at bagi kita pribadi. Tidak perlu membuka catatan yang telah kita tulis, akan tetapi sudah tersimpan dalam memori kita. Selain merealisasikan, kita mendapat perintah dari Rasulullah untuk melakukan estafet ilmu yaitu dengan menyampaikannya kepada orang lain. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama’ terdahulu kepada kita. Baik secara lisan maupun secara pustaka. Perintah ini terlontar dari tutur kata Rasulullah kepada para sahabatnya yang hukumnya juga berlaku untuk para ummatnya.

Sabda beliau yang berbunyi,

بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”(HR. Bukhori)

Walaupun hanya satu ayat, tetap bernilai pahala apabila kita sampaikan kepada orang lain yang kemudian mengamalkannya. Penyampaian dan estafet ilmu yang dilakukan terus menerus akan menjadi amal jariah yang tidak mengurangi pahala orang yang mengerjakannya. Selain itu, ilmu akan memberi syafa’at bagi para pemiliknya diakhirat kelak. Seyogyanya sebagai seorang muslim mengikuti perintah Allah yang telah Allah ajarkan melalui nabi kita rasul kita yang mulia Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Kita teruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu, terlebih ilmu agama Islam. Semoga Allah terus memberikan pahala bagi yang menyebarkan dan mengestafet ilmuNya.

Seorang muslim pun harus memberikan haq mengamalkan ilmu ketika telah mendapatkannya. Hal ini, tidak bisa dijadikan alasan kita untuk enggan mencari ilmu. Karena mencari ilmu adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim yang tiada batas waktu dan umur. Setua apapun umur kita, jika kita masih mampu mencari ilmu maka wajib bagi kita untuk mencari. Maka, selagi kita masih muda gali ilmu sedalam-dalamnya dan jangan sia-siakan waktu yang Allah anugrahkan pada kita. Wallahua’lam bishshowaab…

Sungguh mulia orang yang berilmu, didunia maupun diakhirat. Hingga sebagaimana perkataan para ulama’ dan para sahabat. Allah pun telah banyak berfirman yang berkenaan dengan ilmu. Maka bersyukurlah orang-orang yang berilmu atas segala fadhilah yang telah didapat dan hendak didapat. Diantara firman Allah dalam kitab Nya adalah:
يَرْفَعِ اللّه الّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَأُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجاَتٍ
“Allah akan mengangkat derajar orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.”(Qs. Al-Mujadillah:11)

Tanpa ilmu, manusia akan hina laksana binatang. Memiliki akal yang tidak digunakan untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Tidak memiliki norma antara manusia dan tidak memikirkan tujuan ia hidup didunia. Hanya memenuhi hawa nafsu yang selalu berkecamuk dalam hati. Dengan adanya ilmu, manusia lebih memiliki adab terhadap siapapun. Manusia mengetahui tujuan hidup didunia ini serta dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Kepada siapa ia harus tunduk dan patuh, kepada siapa ia harus meminta pertolongan dan kepada siapa ia harus mengabdi. Maka, Allah berjanji hendak mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan memuliakannya.
Dalam sebuah kata mutiara yang merupakan tutur kata Rasulullah disebutkan:
أُطْلُبُوا الْعِلمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّهْدِ
“Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat.”

Nasehat ini hendaknya kita renungkan dan kita amalkan. Begitu banyak jalan menuju ilmu telah tersedia dizaman kita ini. Buku-buku telah termodifikasi, kita tinggal menikmati saja. Tidak sebagaimana para ulama’ salaf terdahulu. Mereka rela semasa hidupnya mereka gunakan untuk berkelana mencari ilmu di berbagai negara. Menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu, menghafal dan menulis. Sebagaimana yang dilakukan Imam Ahmad bin Hanbal dalam mencari ilmu. Beliau rela berjalan sambil menuntun hewan tunggangannya yang membawa buku-buku tebal yang berisi ilmu-ilmu yang telah beliau dapatkan dari para guru beliau.

Imam Bukhori yang rela pergi dari kampung halamannya menuju negri sebrang demi mendapatkan satu hadits dari seorang ahlu hadits. Dan sekarang, ilmu sangat mudah untuk dicari. Tidak sebagaimana para ulama’ terdahulu. Banyak buku yang ditulis oleh para ulama yang dapat kita pelajari ilmunya. Terutama ilmu-ilmu tentang dasar-dasar agama, hukum-hukum, dan batasan-batasan yang di tentukan oleh Allah, larangan-larangan Allah yang secara terperinci sudah termodifikasi semua dalam buku-buku yang ditulis oleh para ulama’. Ilmu-ilmu yang mereka dapat, selalu terealisasikan serta menuliskannya dalam bentuk buku-buku tebal.

Para ulama’ terdahulu sudah memikirkan generasi-generasi setelahnya. Oleh karenanya, mereka menuliskan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan agar dapat dipelajari oleh generasi setelahnya. Tentunya, ilmu yang mereka dapatkan telah mereka realisasikan. Salah satu figure yang luar biasa kehebatannya dalam merealisasikan ilmu adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Tidak ada satu hadits yang beliau dapatkan kecuali beliau mengamalkannya. Hingga suatu amalan yang beliau tidak menyukainya beliau tetap mengerjakannya walaupun hanya sekali.

Diantaranya, beliau tidak menyukai hijamah akan tetapi beliau mendapatkan hadits tentang itu, maka beliau tetap mengamalkannya.
Dalam pepatah lain disebutkan:
العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ
“Ilmu tanpa amal, bagaikan ilmu tanpa buah.”

Dengan merealisasikan ilmu, menjadikan ilmu-ilmu yang kita miliki akan lebih melekat pada diri kita. Bahkan, ilmu-ilmu yang telah kita realisasikan akan bermanfa’at bagi kita pribadi. Tidak perlu membuka catatan yang telah kita tulis, akan tetapi sudah tersimpan dalam memori kita. Selain merealisasikan, kita mendapat perintah dari Rasulullah untuk melakukan estafet ilmu yaitu dengan menyampaikannya kepada orang lain. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama’ terdahulu kepada kita. Baik secara lisan maupun secara pustaka. Perintah ini terlontar dari tutur kata Rasulullah kepada para sahabatnya yang hukumnya juga berlaku untuk para ummatnya.
Sabda beliau yang berbunyi,
بَلِّغُوْا عَنِّيْ وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”(HR. Bukhori)
Walaupun hanya satu ayat, tetap bernilai pahala apabila kita sampaikan kepada orang lain yang kemudian mengamalkannya. Penyampaian dan estafet ilmu yang dilakukan terus menerus akan menjadi amal jariah yang tidak mengurangi pahala orang yang mengerjakannya. Selain itu, ilmu akan memberi syafa’at bagi para pemiliknya diakhirat kelak. Seyogyanya sebagai seorang muslim mengikuti perintah Allah yang telah Allah ajarkan melalui nabi kita rasul kita yang mulia Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam. Kita teruskan perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu, terlebih ilmu agama Islam. Semoga Allah terus memberikan pahala bagi yang menyebarkan dan mengestafet ilmuNya.

Seorang muslim pun harus memberikan haq mengamalkan ilmu ketika telah mendapatkannya. Hal ini, tidak bisa dijadikan alasan kita untuk enggan mencari ilmu. Karena mencari ilmu adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim yang tiada batas waktu dan umur. Setua apapun umur kita, jika kita masih mampu mencari ilmu maka wajib bagi kita untuk mencari. Maka, selagi kita masih muda gali ilmu sedalam-dalamnya dan jangan sia-siakan waktu yang Allah anugrahkan pada kita. Wallahua’lam bishshowaab…